- Admin Setda
- Read Time: 1 min

Purwodadi— Memasuki tahun anggaran 2026, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Grobogan mulai menata langkah dengan lebih terarah. Bukan sekadar menyusun daftar program, melainkan memastikan setiap kebijakan bergerak dalam satu irama.
Arah itulah yang mengemuka dalam forum Coffee Morning yang digelar di Purwodadi, Selasa (6/1/2026), dipimpin langsung oleh Bupati Grobogan Setyo Hadi bersama Wakil Bupati H. Sugeng Prasetyo.
Dalam forum tersebut, Bupati menegaskan pentingnya menjaga keselarasan visi antarperangkat daerah. Pembangunan Grobogan, menurutnya, harus bertumpu pada semangat Mbangun Deso Noto Kutho—membangun desa tanpa mengabaikan penataan kota—agar pertumbuhan dapat dirasakan lebih merata dan berkelanjutan.
Bupati Setyo Hadi mengingatkan, visi besar daerah tidak akan bergerak jauh jika setiap perangkat daerah berjalan sendiri-sendiri. Perencanaan, pelaksanaan, hingga pengendalian program harus saling menguatkan, sehingga kebijakan yang disusun benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Sejalan dengan itu, Wakil Bupati H. Sugeng Prasetyo menekankan pentingnya kerja sama yang responsif di lapangan. Ia meminta para pimpinan perangkat daerah tidak ragu saling memberi dukungan, baik secara teknis maupun manajerial, ketika menghadapi kendala. Dalam konteks komunikasi publik, ia juga mengingatkan agar isu-isu yang berkembang di masyarakat disikapi secara bijak, dengan mengedepankan langkah nyata sebagai bentuk klarifikasi yang paling efektif.
Forum ini sekaligus menjadi ruang refleksi atas capaian pembangunan tahun sebelumnya. Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Grobogan, Anang Armunanto, memaparkan sejumlah capaian tahun 2025 yang menjadi pijakan menuju 2026.

Di sektor ekonomi, program subsidi bunga KUMDA Dewi Sri telah menyalurkan kredit lebih dari Rp2 miliar kepada ratusan pelaku UMKM. Di bidang ketenagakerjaan, ratusan pencari kerja terserap melalui bursa kerja, sementara penguatan kompetensi terus dilakukan melalui berbagai program pelatihan vokasi di Balai Latihan Kerja (BLK).
Pada sektor sosial dan pendidikan, bantuan rehabilitasi sosial menjangkau lansia dan penyandang disabilitas, sementara akses beasiswa diberikan kepada mahasiswa di berbagai perguruan tinggi mitra. Dukungan bagi buruh tani tembakau dan pekerja juga diperkuat melalui pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DHBCT), baik dalam bentuk bantuan langsung maupun perlindungan jaminan sosial.
Menatap tahun 2026, pemerintah daerah menyiapkan langkah yang lebih konkret, terutama di bidang infrastruktur dan lingkungan. Percepatan penanganan jalan dan jembatan dirancang melalui kombinasi berbagai sumber pembiayaan. Di kawasan perkotaan Purwodadi, penanganan banjir dan penataan drainase menjadi perhatian tersendiri. Sementara itu, pengelolaan sampah diarahkan pada pendekatan yang lebih inovatif, dengan target pengoperasian teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) di TPA Ngembak pada akhir 2026 melalui skema pengelolaan yang terukur.
Dari sisi tata kelola internal, Sekda Anang Armunanto menjelaskan bahwa mulai 1 Januari 2026, tenaga honorer bertransformasi menjadi Tenaga Paruh Waktu dengan sistem penggajian yang lebih tertib. Untuk jenis pekerjaan tertentu, pengelolaan dilakukan melalui mekanisme alih daya dengan penataan administrasi yang lebih rapi. Pembatasan belanja pegawai dan penguatan belanja infrastruktur kembali ditegaskan, seiring kewajiban penggunaan E-Katalog versi terbaru guna mendukung produk dalam negeri.
Sebagai muara dari seluruh upaya tersebut, Pemkab Grobogan menetapkan target indikator makro yang terukur, mulai dari pertumbuhan ekonomi, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia, hingga penurunan angka kemiskinan. Untuk menjaga ritme pelaksanaan, tenggat administratif ditetapkan secara jelas, termasuk penyelesaian dokumen anggaran dan perencanaan pengadaan di awal tahun, agar pelaksanaan program tidak tersendat dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat sejak awal.
Keseluruhan arah kebijakan ini menegaskan satu hal: pembangunan tidak hanya soal angka dan target, tetapi tentang bagaimana perencanaan, disiplin, dan kerja sama diterjemahkan dalam tindakan nyata. Di situlah semangat Mbangun Deso Noto Kutho menemukan maknanya—ketika desa dan kota tumbuh seiring, dan pembangunan hadir sebagai upaya bersama untuk menjawab kebutuhan masyarakat Grobogan hari ini dan ke depan. (jsa)

