- Admin Setda
- Read Time: 1 min

Purwodadi— Menjelang peringatan Hari Jadi ke-300 Kabupaten Grobogan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Grobogan mengawali rangkaian kegiatan dengan ziarah ke makam para leluhur. Momentum ini dimaknai sebagai ikhtiar meneguhkan ingatan sejarah sekaligus menyatukan langkah ke depan dalam semangat “Nyawiji Mbangun Deso Noto Kutho”.
Kamis (12/2/2026), Bupati Grobogan Setyo Hadi bersama jajaran Forkopimda dan didampingi perangkat daerah melaksanakan ziarah ke Makam Ki Ageng Tarub dan Ki Ageng Selo di Kecamatan Tawangharjo. Pada waktu yang sama, Wakil Bupati H. Sugeng Prasetyo bersama rombongan melakukan ziarah ke Makam Ki Ageng Getas Pendowo di Kuripan, Purwodadi, serta makam Bupati pertama Grobogan, Adipati Puger Martopuro.
Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama dan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan bantuan sembako kepada masyarakat sekitar sebagai wujud kepedulian sosial yang menyertai peringatan tiga abad Grobogan.
Bupati Setyo Hadi menyampaikan bahwa ziarah ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bentuk penghormatan atas jasa para leluhur yang telah meletakkan fondasi berdirinya Grobogan. “Kita mengenang dan menghormati jasa para pendahulu. Hasil perjuangan itu kita rasakan sampai hari ini,” ujarnya.
Menurut Bupati, pembangunan yang dijalankan saat ini merupakan kelanjutan dari ikhtiar panjang generasi sebelumnya. Karena itu, semangat kebersamaan dan pengabdian perlu terus dirawat agar arah pembangunan tetap berpijak pada kepentingan masyarakat. Ia pun memohon dukungan seluruh warga agar dirinya bersama Wakil Bupati dapat menjalankan amanah dengan lancar dan penuh tanggung jawab.

Senada dengan itu, Wakil Bupati H. Sugeng Prasetyo memaknai ziarah sebagai bentuk dharma bhakti generasi penerus kepada para pendahulu. Mengingat jasa leluhur, menurutnya, bukan hanya mengenang nama dan sejarah, tetapi juga melanjutkan nilai pengabdian dalam kehidupan sehari-hari.
Ia kemudian mengingatkan bahwa kepedulian sosial harus menjadi perhatian bersama. Peristiwa sosial yang memprihatinkan seperti yang terjadi di sejumlah daerah lain, tegasnya, tidak boleh sampai terjadi di Grobogan. Pemerintah daerah hingga pemerintah desa diminta lebih peka terhadap kondisi warganya, sementara masyarakat diajak untuk saling peduli dan tidak membiarkan persoalan tumbuh tanpa perhatian.
“Jangan sampai ada warga yang merasa sendirian menghadapi kesulitan,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa membangun daerah tidak hanya tentang infrastruktur dan pertumbuhan, tetapi juga memastikan setiap warga—terutama anak-anak dan keluarga yang membutuhkan—merasakan kehadiran dan perhatian lingkungan sekitarnya.
Melalui rangkaian ziarah ini, Pemerintah Kabupaten Grobogan berharap peringatan tiga abad tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi momentum memperkuat persatuan dan gotong royong. Dengan semangat “Nyawiji Mbangun Deso Noto Kutho”, pembangunan desa dan penataan kota diharapkan berjalan selaras, berakar pada nilai sejarah, dan tetap berpihak pada kepentingan masyarakat Grobogan. (jsa)



